Pringsewu TV– Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, membuka Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) VI Pemuda Katolik Komda Lampung di Hotel Urban Pringsewu.
Muskomda VI Pemuda Katolik yang di hadiri oleh H. Riyanto Pamungkas Bupati Kabupaten Pringsewu, Suherman Ketua DPRD Kabupaten Pringsewu, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pringsewu, Romo Paroki Pringsewu, Penasehat Pemuda Katolik, tokoh-tokoh, organisasi WKRI, Pemuda Lintas Agama/ Kepemudaan (OKP), dan tamu undangan.
Atas nama pemerintah kabupaten pringsewu mengucapkan apresiasi dan selamat melaksanakan Muskomda VI Pemuda Katolik dalam membangun kaderisasi berorganisasi yang solid dan bermanfaat bagi masyarakat. Tema Muskomda VI, “Akselerasi Pemuda Katolik yang Mandiri untuk Mewujudkan Lampung Makmur dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas”, sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan saat ini. Ia berharap musyawarah dapat berlangsung demokratis dan menghasilkan keputusan terbaik, termasuk memilih kepengurusan baru yang mampu memperkuat peran organisasi dalam pembangunan daerah, pemberdayaan generasi muda, dan penguatan toleransi antarumat beragama.
H. Riyanto Pamungkas menyampaikan bahwa semua OKP yang ada di kabupaten pringsewu harus bersinergi dengan pemerintah kabupaten pringsewu. Bagaimana bisa mengawal negara Indonesia yang kita cintai ini, tetap utuh dan bersatu dengan adanya keberagaman dan perbedaan.
Pemerintah berharap sinergi dari pemuda katolik dapat di tingkatkan, khususnya untuk meningkatkan program-program yang strategis pemerintah daerah generasi muda dan terutama menguatkan toleransi antar umat beragama serta pembangunan sosial kemasyarakatan. Pemuda katolik harus terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan daerah.
Bupati Pringsewu juga mengapresiasi berbagai kegiatan nyata Pemuda Katolik, seperti program Perisai BPJS Ketenagakerjaan, Sekolah Pasar Modal bagi generasi muda, penyaluran alat bantu disabilitas bersama Komnas Disabilitas, pengamanan hari raya keagamaan, pengawasan partisipatif bersama Bawaslu, serta Diklatsar Pasukan Komando Pemuda Katolik bekerja sama dengan kepolisian. Artinya bahwa Pemuda Katolik telah memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program pemerintah dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Romo Paroki St. Yusup Pringsewu, RD. Thomas Aquino Imam Mursid, menegaskan bahwa kehadiran umat Katolik dan organisasi kemasyarakatan Katolik tidak hanya untuk melayani Gereja, tetapi juga untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Menurutnya, panggilan sebagai umat beriman harus diwujudkan dalam keterlibatan aktif di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam sambutannya, Romo Thomas menyampaikan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk memiliki tantangan tersendiri. Berbagai persoalan yang dihadapi sering kali muncul akibat perbedaan pandangan di tengah keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Namun, keberagaman tersebut sejatinya bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat dan dipersatukan.
"Sebagai umat Katolik, kita hadir tidak hanya untuk Gereja, tetapi juga untuk tanah air. Persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan berbangsa sering kali muncul karena kebhinekaan kita berbenturan dengan pandangan-pandangan tertentu. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijaksana dan semangat persaudaraan agar perbedaan yang ada dapat menjadi kekuatan bersama," ujarnya.
Lebih lanjut, Romo Thomas menjelaskan bahwa terdapat tiga unsur penting yang menjadi satu kesatuan dalam kehidupan bangsa Indonesia, yaitu budaya, agama, dan wawasan kebangsaan. Ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena menjadi fondasi yang membentuk identitas bangsa Indonesia.
Menurutnya, Gereja melalui berbagai organisasi kemasyarakatan Katolik memiliki peran strategis sebagai jembatan yang menghubungkan ketiga aspek tersebut. Organisasi Katolik diharapkan mampu menjadi ruang dialog, sarana pemersatu, sekaligus agen yang memperkuat harmoni di tengah keberagaman masyarakat.
"Gereja melalui organisasi-organisasi Katolik harus menjadi jembatan bagi budaya yang beraneka ragam, jembatan bagi kehidupan beragama yang beragam, dan sekaligus menjadi jembatan dalam memperkuat wawasan kebangsaan. Ketiganya harus berjalan bersama agar persatuan bangsa tetap terjaga," tegasnya.
Romo Thomas juga menyoroti tantangan moral yang saat ini dihadapi masyarakat. Perkembangan zaman, kemajuan teknologi, serta perubahan sosial yang begitu cepat menuntut generasi muda untuk memiliki landasan moral yang kuat. Ia mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada kemajuan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga pada kualitas moral dan karakter masyarakatnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki dasar negara yang kokoh, yaitu Pancasila, yang mengandung nilai-nilai luhur tentang kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Pancasila harus terus menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar seluruh masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai serta menikmati hasil pembangunan secara merata.
"Konsep negara kita adalah Pancasila. Di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, setiap elemen bangsa, termasuk Gereja dan organisasi kemasyarakatan Katolik, memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai Pancasila serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
Di akhir penyampaiannya, Romo Thomas mengajak seluruh umat dan generasi muda Katolik untuk terus menjadi pribadi yang mampu merawat persatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, serta aktif membangun dialog dan kerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat. Dengan demikian, Gereja dapat semakin hadir sebagai pembawa damai dan menjadi mitra strategis dalam mewujudkan Indonesia yang harmonis, sejahtera, dan berkeadaban. (*takat)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)