PRINGSEWU TV - Pringsewu, Talang Indah Pajaresuk | Bupati Pringsewu H. Riyanto Pamungkas menggoreskan tinta awal di canvas putih sebagai tanda berdirinya tonggak awal perjuangan Dewan Kebudayaan Pringsewu di Kabupaten Pringsewu yang di nahkodai oleh 3 (tiga) presidium, yakni Khoirul Anwar, M.Pd.I, Fitri Amin Bukhori, S.Pd (Pii Ramones Art) dan Rudi Harmoko.
Hari ini, Sabtu 31 Januari 2026 merupakan catatan sejarah sejak 15 (lima belas) tahun terakhir perjuangan berdirinya Dewan Kesenian dan Kebudayaan di Bumi Jejama Secancanan Ini.
Sudah 5 (lima) kali akan dibentuk dewan kesenian / Kebudayaan Pringsewu, tetapi selalu gugur di tengah perjalanan, dan di hari ini, dimasa kepemimpinan H. Riyanto Pamungkas menjadi catatan sejarah berhasilnya para praktisi Seni dan Budaya membentuk organisasi yang menaungi seni dan budaya dengan nama Dewan Kebudayaan Pringsewu (DKP).
Perjuangan ini merupakan bukti, bahwa para praktisi seni dan budaya tidak kenal lelah dan putus asa hingga hari ini. Dan hari ini adalah awal dari perjuangan selanjutnya untuk mengembangkan seni dan budaya serta meningkatkan kemajuan dan kemandirian anggota khususnya di dunia seni dan budaya.
Khoirul Anwar, M.Pd.I, selaku pimpinan presidium DKP dalam sambutannya menyampaikan bahwa DKP bakal menjadi warna di Kabupaten Pringsewu dengan meningkatkan para seniman dan budayawan bangsa. Budaya dan seni di Pringsewu sangat kaya SDM, oleh karenanya perlu di bentuk organisasi untuk menaungi dan memfasilitasi komunikasi dengan pemerintah Kabupaten Pringsewu bahkan ke Kementerian Kebudayaan RI.
H. Riyanto Pamungkas mengatakan Dewan Kebudayaan Pringsewu memiliki PR besar, untuk membudayakan kepada generasi muda agar mengenal budayanya sendiri.
"Dibentuk nya DKP di Kabupaten Pringsewu memiliki PR penting, yakni bagaimana membudayakan budaya bangsa kepada gen Z, yang saat ini mulai melupakan budaya leluhur nya". Kata Bupati Pringsewu
Dalam kesempatan ini, Bupati Pringsewu menorehkan tinta di canvas putih bersih sebagai penanda cikal bakal perjuangan DKP mulai dari Zero to Hero, dari goresan awal tersebut, bagaimana DKP akan melukisnya menjadi karya yang bernilai tinggi atau karya yang berakhir tidak bernilai dan tidak di hargai masyarakat. (Ath)



